Terkadang, seseorang tidak sesungguhnya memahami “apa yang dibutuhkan di dalam kehidupannya ?”. Berlomba dengan waktu untuk mencari dan menemukan sebuah kebahagiaan. Ia akan membuat sebuah tolak ukur tentang apa yang dimaksud “kebahagiaan”.
Misalnya ia akan bahagia jika telah lulus kuliah, ia akan bahagia jika telah mendapat sebuah rumah baru, dan lain sebagainya. Bahkan seseorang dapat menjadi “haus” kebahagiaan. Karena sesungguhnya target yang ia buat tidak benar-benar dapat memberinya kebahagiaan.
Hal seperti itu yang banyak kita jumpai saat ini, dan juga pernah saya alami. Perasaan hampa dan kurang puas, saat kebahagiaan yang dinanti ternyata tidak tercapai, meskipun target yang kita buat sudah terlaksana.
Tahukah anda apa yang saya temukan ?
Sebuah jawaban yang membuat semuanya berubah. Sebuah “kesadaran” tentang ada dan tiada. Rumus sederhana yang membuka mata dan pikiran saya saat itu. semua hal di dunia tidak ada yang abadi, silih berganti dan tentu menjadi usang seiring waktu. Seperti tubuh yang dapat menjadi tua, seperti rambut yang dapat berubah warna. lalu, saya mendapatkan sesuatu yang tidak dapat menua, yaitu “hati nurani”.
Kecantikannya tidak akan menghilang, menjadi cahaya penerang di dalam diri. Resep sederhananya adalah bersyukur dan tentunya “saling mengasihi” dengan siapapun dan apapun. Dengan perlahan saya membangun diri dari dalam. Memperkaya hati nurani, belajar berterimakasih atas segala yang saya miliki.
Tahukah anda apa hasilnya?
Berjuta kebahagiaan, senyum kasih setiap harinya, serta merubah semua cara pandang saya terhadap hidup. Hal tersebut membuat segalanya menjadi seimbang. satu hal yang saya dapat bagikan pada anda.
“Kehidupan adalah kasih bagiku, semua harta dunia tidak dapat melebihi rasa syukur dan kebahagiaan ku saat ini. Saat ku menemukan sebuah harta berharga yang tidak dapat hilang dan berkurang walaupun ku beri pada siapapun, yaitu Kekayaan Hati”
SETUJU
BalasHapusok.. :D
BalasHapus